Sabtu, 09 Juni 2012 0 komentar

Tugas Proyek Mini

Nama Kelompok
-          MuhammadHabibie Almy 111301004
-          AdolfM. Purba 111301060
-          FransAriadi Ginting 111301112

I. PERENCANAAN
Topik  :   
Ruang lingkup Pendidikan Usia Pra Sekolah

Judul : 
METODE PENGAJARAN EFEKTIF TERHADAP ANAK USIA PRASEKOLAH MENGHADAPI MASA SEKOLAH

PENDAHULUAN
Saat ini marak sekali dilakukan pengajaran yang berlebihan terhadap anak usia prasekolah. Masa-masa dimana mereka seharusnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain, kini berubah seiring berjalannya waktu sesuai tuntutan pendidikan yang sebenarnya sedikit melenceng dari seharusnya. Beberapa jenjang usia sekolah awal, yaitu Sekolah Dasar (SD) menuntut agar siswa/i yang masuk pada jenjang tersebut diharuskan untuk tahu membaca dan menulis, dan jika hal tersebut tidak terpenuhi maka siswa/i tersebut tidak diperkenankan untuk masuk ke sekolah tersebut. Seakan – akan wajib belajar sembilan tahun itu hanya berupa simbol belaka, padahal sebaliknya hanya anak-anak pintar saja yang diberikan kesempatan bersekolah sedangkan anak-anak yang terkesan tidak mampu otaknya tidak diperkenankan untuk sekolah di beberapa sekolah tersebut.

Terkesan bahwa sekolah-sekolah dasar saat ini umumnya ingin memperlihatkan kelebihan-kelebihan sekolah mereka pada orang banyak dengan adanya anak-anak pintar yang dididik di dalamnya. Seharusnya untuk sekolah dasar yang masih dalam lingkup wajib belajar sembilan tahun tidak boleh memiliki motivasi seperti itu, sebaliknya sekolah-sekolah dasar seharusnya menerima anak-anak yang kurang mampu dalam baca tulis untuk dididik menjadi tahu sehingga dengan demikian, anak-anak menjadi pintar dan nama sekolah juga ikut dapat dibanggakan.

Melihat situasi tersebut, kami sebagai sebuah kelompok dari tugas wajib mata kuliah Psikologi Pendidikan tergerak untuk meneliti proses pengajaran yang efektif terhadap anak usia prasekolah menjelang masa-masa memasuki usia sekolah. Untuk itu, kami melakukan penelitian pada sebuah Taman Kanak-Kanak di lingkungan Universitas Sumatera Utara untuk mengetahui apakah memang anak benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi test-test yang dilakukan oleh kebanyakan SD di kota Medan, atau apakah ada pengajaran tentang sesuatu yang jauh lebih penting daripada itu, yaitu untuk kemajuan anak dan bukan untuk memenuhi keinginan-keinginan sekolah tersebut.

Kami juga ingin mengetahui apakah ada pengaruh yang tidak baik terhadap anak-anak usia prasekolah yang dituntut untuk mampu membaca dan menulis, atau bahkan apakah memang di lingkungan taman kanak-kanak anak-anak tersebut difokuskan untuk tahu membaca dan menulis. Di samping itu kami juga ingin mengetahui bagaimana peran TK terhadap tuntutan orangtua yang menginginkan sama dengan keinginan sekolah-sekolah dasar, yaitu agar anak mereka mengetahui membaca dan menulis.

LANDASAN TEORI

Anak usia prasekolah tidaklah sama dengan anak usia dini walaupun pada dasarnya anak-anak prasekolah masih merupakan bagian dari anak usia dini. Anak prasekolah adalah akhir dari suatu usia dini, dimana seorang anak sedang dipersiapkan untuk masa sekolah. Anak usia prasekolah juga merupakan bagian dari masa kanak-kanak awal karena berada pada rentang sekitar 3-6 tahun. Anak usia prasekolah adalah anak-anak yang belajar dalam lingkungan yang tidak terlalu formal (diwajibkan) seperti halnya sekolah dasar, anak usia prasekolah lebih mengacu pada perkembangan psikososial dalam keluarga, lingkungan (seperti tempat titipan anak), playgroup, dan taman kanak-kanak.

Konteks sekolah bervariasi sejak masa kanak-kanak awal, sekolah dasar hingga remaja. Setting masa prasekolah, seperti halnya taman kanak-kanak adalah sebuah lingkungan yang terlindung yang batas-batasnya adalah ruang kelas dan arena permainan. Dalam setting sosial yang terbatas ini, anak-anak berinteraksi dengan satu, dua atau beberapa guru (biasanya perempuan), yang menjadi figur utama mereka pada saat itu. Perkembangan sosial mereka juga berkembang dengan adanya interaksi dengan teman-teman sebayanya dalam kelompok kecil.

Ada banyak variasi cara mendidik anak. Namun, saat ini semakin banyak pakar pendidikan sepakat agar pendidikan ini disesuaikan dengan perkembangan, termasuk masa prasekolah. Pendidikan ini didasarkan pada pengetahuan perkembangan khas dari anak-anak dalam rentang usia (ketepatan usia) dan keunikan anak (ketepatan individual). Pendidikan yang sesuai dengan perkembangan sangat bertentangan dengan praktik yang tidak sesuai dengan perkembangan, yang mengabaikan metode konkret dalam mengajar anak. Pengajaran langsung, berupa tugas menulis dan membaca yang dibebankan kepada anak, dianggap tidak sesuai dengan tingkat perkembangan pada anak prasekolah. Namun, bukan berarti anak dilarang untuk belajar menulis dan membaca sebab pasti akan ada anak yang memiliki kemampuan yang lebih awal muncul daripada teman-teman sekitarnya, dan tugas pengajar adalah membantu mendorong dan mengembangkannya serta bukan memaksa agar anak prasekolah tahu membaca.

Perkembanagn pada anak usia prasekolah seharusnya lebih berfokus pada perkembangan psikososial (sosioemosional), fisik (sensorimotorik), dan kognitif. Setiap anak adalah individu yang unik dan semua anak punya kekuatan, kebutuhan, dan minat masing-masing. Mengenali variasi individu ini merupakan aspek utama untuk menjadi guru yang kompeten.

Alat dan Bahan

Kami melakukan penelitian tugas mini proyek di TK Dharmawanita Persatuan USU untuk melihat metode pengajaran yang dilakukan oleh staf pengajar terhadap anak TK pada tanggal 28 Mei 2012. Alat-alat yang kami gunakan tidaklah terlalu banyak, yaitu hanya berupa alat tulis untuk keperluan wawancara, penggunaan KTM sebagai tanda pengenal, dua buah kamera untuk dokumentasi, dan sekotak cokelat sebagai reward kepada anak-anak yang membantu proses penelitian kami. Biaya yang kami perlukan sebanyak Rp 15.000,00 untuk pembelian reward.

Jadwal Perencanaan


Kegiatan
April
Mei
Juni
I
II
III
IV
I
II
III
IV
v
I
II
Pemilihan Tema



v







Penentuan Judul




v






Diskusi Metode Pelaksanaan Penelitian





v





Penyusunan Pendahuluan dan Landasan Teori






v




Mengurus Surat Izin dari Fakultas






v




Konfirmasi dari TK dan Menyerahkan Surat Izin







v



Pelaksanaan Observasi







v



Diskusi Penyusunan Hasil Observasi








v


Pembuatan Laporan









v

Pembuatan Poster









v

Evaluasi









v

Publikasi/posting









v























II.PELAKSANAAN

PROSES PENELITIAN
Ø  Anggota Kelompok
-          MuhammadHabibie Almy
-          AdolfM. Purba
-          FransAriadi Ginting
Ø  Menetapkan judul penelitian “Metode Pengajaran Efektif Terhadap Anak Prasekolah Dalam Menghadapi Masa Sekolah”
Ø  Menetapkan  tujuan observasi ke TK Dharmawanita Persatuan USU di Jln. Universitas, No. 32, Kampus USU- Medan
Ø  Menciptakan kerangka jadwal observasi seperti di bawah ini
Waktu
 Kegiatan
30 April 2012
Memilih topik pada daftar yang telah ditentukan oleh dosen mata kuliah Psikologi Pendidikan pada topik ke-9 “Ruang lingkup Pendidikan Usia Pra Sekolah"
5 Mei 2012
Merencanakan judul dan fokus utama observasi
10 Mei 2012
Menetapkan metode peneilitian
16 Mei 2012
Menetapkan lokasi tujuan observasi
17 Mei 2012
Menyusun pendahuluan dan landasan teori
18 Mei 2012
Mengajukan permohonan pembuatan surat izin observasi dari bagian akademik Fakultas Psikologi Pendidikan
24 Mei 2012
Memperoleh surat izin observasi yang telah ditandatangani oleh Pembantu Dekan 1
26 Mei 2012
Berkunjung ke TK Dharmawanita Persatuan USU di Jln. Universitas, No. 32, Kampus USU- Medan
28 Mei 2012
Kami mengadakan observasi lapangan untuk pengambilan data yang dilakukan mulai pukul 08.30 WIB- 10.30 WIB di TK USU
29 Mei 2012
Mengumpulkan data dan dokumentasi
7 Juni 2012
Menyelesaikan laporan observasi dan poster
9 Juni 2012
Mempublikasikan hasil laporan dan poster pada blog masing-masing mahasiwa yang bertugas melakukan observasi tersebut.

III. PELAPORAN DAN EVALUASI

HASIL PENELITIAN
Pada hari Senin, tanggal 28 Mei 2012 pukul 08.30 kami mengunjungi TK Dharmawanita Persatuan USU untuk melaksanakan observasi dan pengambilan data. Kami disambut dengan baik oleh kepala sekolah, Ibu Hj. Risna Erita beserta staf pengajar yang lain. Beliau dengan sangat bersedia dan sukarela memberi waktu untuk melakukan proses wawancara yang telah kami persiapkan. Pada wawancara tersebut kami memiliki lima pertanyaan inti, yaitu:
  1.  Mengenai keadaan TK tersebut (sejarah, jumlah pengajar, siapa saja yang berhak mendapat pendidikan di tempat tersebut, dan jumlah anak pada saat ini)
  2. Jumlah kelas yang ada di TK tersebut dan perbedaan pengajaran tiap tingkatan
  3.  Pengajaran apa yang ditekankan pada tiap-tiap tingkatan TK
  4. Apakah dalam TK tersebut menekankan anak-anak untuk harus mampu membaca dan menulis sebelum memasuki SD.
  5. Pendapat dan tanggapan TK USU terhadap adanya sleksi penerimaan siswa SD yang mewajibkan harus tahu membaca dan menulis.
Hj. Risna Erita menyatakan bahwa TK USU berdiri pada tahun 1985 di lingkungan USU dikarenakan banyaknya anak-anak dari staf pengajar dan pegawai di lingkungan USU yang membutuhkan wadah untuk belajar ketika orangtua mereka harus melakukan pekerjaan mereka. Walaupun berada di lingkungan USU, yang awalnya berfokus untuk mengajar anak-anak dari pegawai USU, saat ini Taman Kanak-kanak (TK) tersebut telah menerima siswa dari luar yang bukan anak-anak pegawai USU. Saat ini sekitar 70 anak belajar di TK USU yang diajar oleh 3 orang staf pengajar. 

Anak –anak tersebut diajar dalam tiga ruangan kelas  yang masing-masing berisi 20-25 anak. TK tersebut terdiri dari dua kelas B dan satu kelas A, dan rencananya akan dibuka untuk kelas playgroup. Kelas A memiliki tingkatan yang lebih kecil daripada kelas B, dimana kelas A terdiri dari anak-anak yang berusia sekitar 3, 4 tahun dan fokus terhadap sosioemosional dan sensorimotorik seperti bermain. Kelas B tidak jauh berbeda dengan kelas A dalam sistem pengajarannya, tetapi perkembangan kognitif anak semakin dikembangkan dalam tahap ini serta mengembangkan kreatifitas dari anak-anak. Kelas B adalah tingkat akhir pada taman kanak-kanak dan merupakan masa persiapan untuk memasuki masa sekolah.

Dalam penelitian tersebut, karena kami mengobservasi pengajaran yang efektif terhadap anak usia prasekolah menghadapi masa sekolah, maka kami lebih berfokus pada penelitian di salah satu kelas B. Ibu Hj. Risna Erita menyatakan bahwa anak-anak sangat tidak ditekankan untuk harus tahu membaca karena akan masih banyak waktu yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak dengan sendirinya. Ibu Hj. Risna juga menyatakan akan lebih optimis terhadap anak-anak yang memang dapat belajar dengan sendirinya dalam kemampuan membaca  serta akan jauh lebih terampil pada masa-masa mendatang dibandingkan dengan anak-anak yang ditekan harus tahu membaca dan menulis. Untuk itulah, Ibu Hj. Risna sangat tidak setuju dengan adanya proses-proses penyeleksian terhadap anak-anak yang tahu atau tidak tahu membaca dan menulis dalam memasuki sekolah dasar, hal ini terkesan bahwa pendidikan non-wajib seperti TK berubah menjadi pendidikan yang diwajibkan dan dibebankan untuk memberi pengajaran membaca dan menulis pada anak-anak.

Namun, walaupun demikian bukan berarti anak-anak tersebut dilarang untuk membaca dan menulis. Anak-anak akan tetap diarahkan menghadapi situasi tersebut, tetapi bukan dengan cara penekanan dan paksaan. Pada semester ke dua TK B, anak-anak tetap dikenalkan dengan pengenalan huruf-huruf dan angka secara menarik seperti halnya mengenalkan lingkungan sekitar terhadap mereka. Seperti yang dikatakan oleh bu Risna, bahwa ternyata anak-anak sebagian besar memang tahu membaca dengan sendirinya melalui dukungan, dorongan berupa pengenalan-pengenalan tersebut. Tulisan-tulisan yang hampir ada di segala tempat di lingkungan kita ternyata dapat membuat anak-anak menjadi lebih termotivasi untuk dapat membaca. Hanya saja, akan tetap ada anak-anak yang sedikit lamban dalam kemampuan tersebut, tetapi bukan berarti mereka tidak bisa. Untuk itulah seharusnya peran SD untuk melatihnya dan bukan menolaknya hadir di lingkungan sekolah mereka.

Jika bukan pengajaran membaca dan menulis yang ditekankan dalam tingkat tersebut, lalu apa yang menjadi fokus pengajarannya? Faktanya adalah bahwa dalam usia anak-anak prasekolah yang merupakan masih bagian dari usia dini, anak-anak telah memperlihatkan kemampuan bakat dan minat mereka. Minat dan bakat tersebutlah yang menjadi fokus utamanya, yaitu bagaimana minat tersebut dapat berkembang dengan baik. Selain daripada itu, kognitif serta sosioemosional akan secara bersamaan dapat diajarkan.
Kami melihat bahwa dalam proses belajar TK B tersebut, anak-anak sangat terlihat aktif dan antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar. Menariknya, anak-anak tersebut dibentuk dalam empat kelompok yang masing-masing memiliki pekerjaan yang berbeda-beda sesuai dengan bakat mereka. Satu kelompok diberi kesempatan untuk menggambar imajinasi mereka, ada kelompok yang diajari pengenalan huruf-huruf, ada kelompok yang membuat sebuah kreatifitas menempel kertas pada buku, dan kelompok yang dibiarkan bermain dalam kelas yang ditempatkan dalam suatu wadah yang disediakan.
Wali kelas TK B menyatakan ketika kami menanyakan situasi tersebut, bahwa anak-anak akan dikembangkan dalam kemampuan apa mereka kurang baik dalam satu semester terakhir dan ketika anak-anak telah memperlihatkan performa yang baik maka anak tersebut dikembangkan dalam potensi yang dia miliki.

Jadwal pengaturan belajar kelas juga diatur sedemikian rupa sehingga anak-anak tidak menghadapi kebosanan dan tekanan dalam proses belajar. Waktu makan dan bermain juga menjadi sarana pengajar untuk mendidik moral dan kemandirian anak. Terlihat dengan sistem pengajaran tersebut, anak-anak tampak sangat baik dan bermoral. Penerimaan mereka terhadap anggota kelompok kami sangat baik sehingga kami merasa sangat terkesan dalam berkumpul dan berbagi dengan mereka. Kemampuan komunikasi mereka menjadikan kami lebih akrab dan mengenal mereka satupersatu dengan baik.

Ketika anak-anak melakukan kesalahan, bukan berarti guru tidak dapat menghukum. Seorang pengajar yang kompeten akan tetap mengajarkan moral yang baik pada anak-anak tersebut dengan cara yang efektif serta konstruktif terhadap perkembangan anak.

Mengenai tuntutan orangtua terhadap keinginan agar anak-anak dapat membaca dan menulis sebelum SD untuk memenuhi persyaratan memasuki SD. TK USU memberi kesempatan les tambahan untuk anak TK B dalam hari-hari tertentu, tetapi dengan waktu yang tidak berlebihan. Namun, tetap saja pengajarannya masih lebih mengacu pada perkembangan sosioemosional anak dan bagaimana supaya anak tersebut dengan sendirinya secara mandiri dapat mengembangkan kemampuan tersebut (yang sudah ada dipersiapkan dalam diri setiap manusia sejak lahir).

KESIMPULAN

Sesuai dengan penelitian kami di TK Dharmawanita Persatuan USU, bahwa pengajaran efektif terbaik pada anak adalah bukan mengenai mereka harus tahu membaca dan menulis, tetapi lebih ke arah bagaimana anak tersebut tumbuh secara mandiri melalui psikososial (sosioemosional) mereka, perkembangan fisik, moral, dan kognitif mereka. Dengan pengembangan kemampuan tersebut akan dengan sendirinya sorang anak mampu dan mandiri dalam mengembangkan kemampuan membaca dan menulis. Dan yang lebih penting lagi bahwa, fokus yang harus diperhatikan adalah bagaimana serang pengajar yang kompeten dapat memerhatikan minat dan bakat dari anak-anak untuk dikembangkan sehingga dapat berguna serta tidak hilang secara sia-sia. Masa-masa prasekolah adalah masa-masa anak bermain sambil belajar dan bukan ditekan untuk belajar seperti yang sering kita bayangkan melainkan bagaimana seorang anak dapat menikmati masa kanak-kanak mereka dengan sangat indah.

TESTIMONI

Anggota kelompok kami berpendapat bahwa sistem pengajaran yang dilakukan oleh TK Persatuan Darmawanita USU sudah dapat dinyatakan baik terhadap proses pengajaran yang sesuai dengan perkembangan anak usia prasekolah. Kami juga sependapat dengan Ibu Hj. Risna Erita bahwa tuntutan terhadap keharusan untuk mampu membaca dan menulis pada anak-anak usia prasekolah tidaklah sesuai dengan perkembangan anak. Kami juga disadarkan oleh pernyataan ibu Risna, bahwa pemaksaan tersebut justru akan menyebabkan otak dari anak cepat mengalami kelelahan dan akan mengganggu proses pembelajarannya menuju masa depan. Kami juga berpendapat bahwa TK Dharmawanita Persatuan USU sudah sesuai dengan kurikulum yang seharusnya pada pendidikan TK yang terlihat dari misi mereka, yaitu :
  1.  Melaksanakan proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum Taman Kanak-kanak
  2.  Melaksanakan kegiatan pengetahuan agama, moral, dan budi pekerti.
  3.  Melaksanakan kegiatan keterampilan bagi peserta didik.
  4. Mengembangkan kreativitas dan pengetahuan peserta didik.
Testimoni personal anggota kelompok.

Muhhamad Habibie Almy “HAHAHA.. akhirnya selesai juga tugas ini, dan saya sangat senang bisa menyelesaikannya. Saya sangat senang terhadap tugas proyek ini, karena memancing kreativitas saya dan kelompok saya untuk bereksplorasi lebih dari biasanya. Dan saya berharap semua ini bermanfaat buat saya dan kelompok saya..”

Adolf M. Purba “Saya merasa sangat luar biasa dapat diberi kesempatan melaksanakan tugas penelitian yang diwajibkan pada mata kuliah Psikologi Pendidikan karena menambah pengalaman dan wawasan saya tentang pengajaran yang efektif terhadap anak usia prasekolah. Observasi tersebut juga menyadarkan saya untuk menghargai waktu yang dibutuhkan oleh anak-anak untuk menjalani masa-masa mereka dengan bermain. Melalui proses bermain tersebutlah anak dapat mengembangkan kreatifitas mereka dan dapat mempelajari di lingkungan sekitar. Setelah saya amati, saya terkenang masa-masa TK dulu, tetapi seiring dengan perkembangan jaman, metode dan cara  pengajaran semakin berkembang pula, walaupun masih didominasi cara yang lama. Saya terkesan dengan anak-anak TK USU yang lucu-lucu, kreatif, dan memiliki etika yang baik”

Frans Ariadi Ginting “ Saya sangat terkesan dengan penerimaan oleh kepala sekolah, staf pengajar, dan anak-anak di TK USU. Kehangatan sikap yang ditampilkan oleh mereka menjadikan kami merasa sangat leluasa untuk melakukan proses penelitian observasi tersebut. Saya melihat bahwa proses pengajaran yang mengembangkan kreatifitas dan kemandirian anak sangatlah baik. Hal ini terlihat ketika saya memerhatikan setiap kelompok anak  mengerjakan tugas-tugas yang berbeda satu dengan lainnya sesuai bakat dan kemampuan yang mereka miliki baik yang masih butuh dikembangkan, maupun potensi yang telah bertumbuh dalam diri mereka. Menurut saya, proses penelitian tersebut dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan serta permasalahan-permasalahan yang ingin kami ketahui dalam judul penelitian kami.”

Daftar Pustaka

Santrock, J.W (2009) . psikologi pendidikan (edisi 3) . Jakarta: Salemba Humanika
Elizabeth.B. (2000). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan. Sepanjang Rentang Kehidupan. Terjemahan. (edisi kelima)
0 komentar

Poster Tugas Mini Proyek

POSTER






Rabu, 06 Juni 2012 0 komentar

Andragogi


1. Pengertian Teori Belajar Andragogi
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: "aner", dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogus" artinya membimbing atau memimpin. Dengan demikian secara harfiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak. Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pendidikan atau pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Banyak praktik proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa.
Dengan demikian maka kalau ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training/Teaching).

2. Perkembangan Teori Belajar Andragogi
Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species" yang diterbitkan pada tahun 1970 mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.
Sebelum muncul Andragogi, yang digunakan dalam kegiatan belajat adalah Pedagogy. Konsep ini menempatkan murid/siswa sebagai obyek di dalam pendidikan, mereka mesti menerima pendidikan yang sudah di setup oleh sistem pendidikan, di setup oleh gurunya/pengajarnya. Apa yang dipelajari, materi yang akan diterima, metode panyampaiannya, dan lain-lain, semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem. Murid sebagai obyek dari pendidikan.
Kelemahannya Pedagogi adalah manusia (dalam hal ini adalah siswa) yang memiliki keunikan, yang memiliki talenta, memiliki minat, memiliki kelebihan, menjadi tidak berkembang, menjadi tidak bisa mengeksplorasi dirinya sendiri, tidak mampu menyampaikan kebenarannya sendiri, sebab yang memiliki kebenaran adalah masa lalu, adalah sesuatu yang sudah mapan dan sudah ada sampai sekarang. Perbedaan bukanlah menjadi hal yang biasa, melainkan jika ada yang berbeda itu akan dianggap sebagai sebuah perlawanan dan pemberontakan. Pedagogy memiliki kelebihan, yakni di dalam menjaga rantai keilmuan yang sudah diawali oleh orang-orang terdahulu, maka rantai emas dan benang merah keilmuan bisa dilanjutkan oleh generasi mendatang. Generasi mendatang tidak perlu mulai dari nol lagi, melainkan tinggal melanjutkan apa yang sudah ditemukan, apa yang sudah dirintis, apa yang sudah dimulai oleh generasi mendatang.
Dalam Andragogy inilah, kita kenal istilah-istilah Enjoy Learning, Workshop, Pelatihan Outbond,dll, dan dari konsep Pendidikan Andragogy inilah kemudian muncul konsep-konsep Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan. Liberalisme pendidikan bertujuan jangka panjang untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana cara menghadapi  persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif. Liberasionisme pendidikan adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita musti segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik (dan pendidikan) yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Bagi pendidik liberasionis, sekolah bersifat obyektif namun tidak sentral dan sekolah bukan hanya mengajarkan pada siswa bagaimana berpikir yang efektif secara rasional dan ilmiah, melainkan juga mengajak siswa untuk memahami kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan. Dengan kata lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang terbuka. Secara moral, sekolah berkewajiban mengenalkan dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa. Sekolahpun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip pendidikan yaitu sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari ‘yang obyektif’, melalui pengamatan atas kenyataan. Anarkisme pendidikan pada umumnya menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah). Tetapi berbeda dengan liberal dan liberasionis, anarkisme pendidikan beranggapan bahwa harus meminimalkan dan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal, bahwa musti dilakukan untuk membuat masyarakat yang bebas lembaga. Menurut anarkisme pendidikan, pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan humanistik berskala besar yang mendesak ke dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan sekalian.
  
3. Asumsi-Asumsi Pokok Teori Belajar Andragogi
Malcolm Knowles (1970) dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
a.    Konsep Diri: Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara.
Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.
b.    Peranan Pengalaman: Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman). Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.
c.     Kesiapan Belajar : Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.
d.    Orientasi Belajar: Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa. Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi. Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.
4. Langkah-Langkah Pokok dalam Andragogi
Langkah-langkah pokok untuk mempraktikkan Andragogi adalah sebagai berikut:
a.      Menciptakan Iklim Pembelajaran yang Kondusif: Ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana yang kondusif untuk proses pembelajaran, yaitu:
1)     Pengaturan Lingkungan Fisik: Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:
a)     Penataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa;
b)     Alat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa;
c)     Penataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi social.
2)     Pengaturan Lingkungan Sosial dan Psikologi: Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung.
a)     Fasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung;
b)     Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina Suasana dan berbagai permainan yang sesuai;
c)     Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut;
d)     Mengembangkan semangat kebersamaan;
e)     Menghindari adanya pengarahan dari "pejabat-pejabat" pemerintah;
f)       Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama.
3)     Diagnosis Kebutuhan Belajar: Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar atau peserta pelatihan di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya:
a)     Melibatkan seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu;
b)     Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan;
c)     Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan;
d)     Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu.

4)     Proses Perencanaan: Dalam perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:
a)     Libatkan peserta untuk menyusun rencana pelatihan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain;
b)     Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut pelatihan tersebut;
c)     Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pelatihan;
d)     Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan.
5)     Memformulasikan Tujuan: Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas.
6)     Mengembangkan Model Umum: Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pelatihan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai.
7)     Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran: Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)     Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan;
b)     Materi pelatihan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis;
c)     Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta;
d)     Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif.
8)     Peranan Evaluasi Pendekatan: evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
a)     Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran/pelatihan;
b)     Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu sendiri (Self Evaluation);
c)     Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan;
d)     Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat;
e)     Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program;
f)       Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.

Selasa, 05 Juni 2012 0 komentar

Survey :"Tingkat Responsibilitas Mahasiswa Psikologi USU 2011 terhadap Mata Kuliah Psikologi Pendidikan"


Senin, tepatnya pada tanggal 28 mei 2012, saya mulai membuat survey online yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang berbentuk kuesioner, dan saya membatasi jumlah responden sebanyak 50. Survey saya berakhir pada tanggal 30 mei 2012 karena sudah mencapai batas responden. Judul dari survey saya adalah “Responsibilitas mahasiswa terhadap mata kuliah Psikologi Pendidikan”. Saya mengambil judul tersebut karena saya ingin mengetahui respon mahasiswa Psikologi USU 2011 terhadap mata kuliah Psikologi Pendidikan.

v Tujuan Survey
Survey ini saya lakukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan dan saya ingin mengetagui atau mengukur tingkat responsibilitas mahasiswa Psikologi USU 2011 terhadap mata kuliah Psikologi Pendidikan.

v Pertanyaan Survey
Adapun beberapa pertanyaan yang saya ajukan dalam kuesioner , yaitu :
·       3 buah pertanyaan tentang data diri dari responden, yaitu Nama, NIM, dan Usia.
·       6 pertanyaan yang berhubungan dengan respon dari mahasiswa terhadap mata kuliah Psikologi Pendidikan, yang membutuhkan jawaban antara bosan, biasa saja,dan senang, yang terdiri dari :
1.    Bagaimanakah anda saat perkuliahan lewat dari waktu yang sudah dijadwalkan?
2.    Apa yang akan anda rasakan saat dosen memberitahu bahwa minggu ini kuliah Psikologi Pendidikan ditiadakan?
3.    Apa yang anda rasakan pada 30 menit akhir perkuliahan?
4.    Bagaimanakah anda ditugaskan untuk diskusi kelompok?
5.    Bagaimana perasaan anda saat melakukan perkuliahan secara online?
6.    Apa yang anda rasakan ketika ditugaskan untuk membuat kuesioner online ini?

v Hasil Survey

Pertanyaan ke-1 :

Bagaimanakah anda saat perkuliahan lewat dari waktu yang sudah dijadwalkan?
 Respon
Bosan
Biasa saja
Senang
Responses
Total
Persentase
66.00%
32.00%
2.00%
50
100%

Pertanyaan ke-2 :
Apa yang akan anda rasakan saat dosen memberitahu bahwa minggu ini kuliah Psikologi Pendidikan ditiadakan?
Respon
Bosan
Biasa saja
Senang
Responses
Total
Persentase
3.92%
50.98%
45.10%
50
100%

Pertanyaan ke-3 :
Apa yang anda rasakan pada 30 menit akhir perkuliahan?
Respon
Bosan
Biasa Saja
Senang
Responses
Total
Persentase
27.45%
47.06%
25.49%
50
100%

Pertanyaan ke-4 :
Bagaimanakah anda ditugaskan untuk diskusi kelompok?
Respon
Bosan
Biasa Saja
Senang
Responses
Total
Persentase
6.00%
62.00%
32.00%
50
100%

Pertanyaan ke-5 :
Bagaimana perasaan anda saat melakukan perkuliahan secara online?
Respon
Bosan
Biasa Saja
Senang
Responses
Total
Persentase
9.80%
56.86%
33.33%
50
100%

Pertanyaan ke-6 :
Apa yang anda rasakan ketika ditugaskan untuk membuat kuesioner online ini?
Respon
Bosan
Biasa Saja
Senang
Responses
Total
Persentase
4.00%
52.00%
44.00%
50
100%


v Kesimpulan
Dari Survey yang telah saya lakukan, saya mendapatkan beberapa kesimpulan bahwa :
1.    Tingkat responsibilitas mahasiswa Psikologi USU 2011 terhadap ketepatan waktu perkuliahan dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan sangat tinggi. Hal ini dapat kita lihat dari respon mahasiswa pada pertanyaan ke-1, yang menunjukkan bahwa mereka sangat kritis dalam merespon ketepatan waktu tersebut.
2.    Tingkat responsibilitas mahasiswa Psikologi USU 2011 terhadap proses perkuliahan dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan tinggi. Hal ini juga dapat kita buktikan berdasarkan hasil survey, yaitu respon mahasiswa pada pertanyaan ke-3, ke-4, ke-5, dan ke-6, kebanyakan memilih pilihan biasa saja atau senang.
3.    Tingkat responsibilitas mahasiswa Psikologi USU 2011 terhadap mata kuliah Psikologi Pendidikan dapat dikategorikan tinggi. Karena banyak mahasiswa yang masih memiliki respon positif yang tinggi yang mengarah pada perkuliahan yang lebih baik.

v Testimoni
Saya senang ditugaskan untuk membuat survey ini, karena saya mendapatkan hal yang baru yang bermanfaat buat saya. Apalagi kedepannya, saya sebagai mahasiswa Psikologi akan lebih banyak membuat survey. Jadi kegiatan ini sangat bermanfaat buat saya.

MUHAMMAD HABIBIE ALMY
(11-004)
0 komentar

S.E.L

== Perkembangan sel ==

Di dalam tubuh manusia, telah dikenali sekitar 210 jenis sel. Sebagaimana organisme multiselular lainnya, kehidupan manusia juga dimulai dari sebuah sel embrio diploid hasil dari fusi haploid [[oosit]] dan [[spermatosit]] yang kemudian mengalami serangkaian mitosis. Pada tahap awal, sel-sel embrio bersifat [[totipoten]], setiap sel memiliki kapasitas untuk terdiferensiasi menjadi salah satu dari seluruh jenis sel tubuh. Selang berjalannya tahap perkembangan, kapasitas diferensiasi menjadi menurun menjadi [[pluripoten]], hingga menjadi [[sel progenitor]] yang hanya memiliki kapasitas untuk terdiferensiasi menjadi satu jenis sel saja, dengan kapasitas [[unipoten]].

Pada level molekular, perkembangan sel dikendalikan melalui suatu proses pembelahan sel, diferensiasi sel, [[morfogenesis]] dan [[apoptosis]]. Tiap proses, pada awalnya, diaktivasi secara genetik, sebelum sel tersebut dapat menerima sinyal [[mitogen]]ik dari lingkungan di luar sel.

=== Proses pembelahan sel ===

[[Siklus sel]] adalah proses duplikasi secara akurat untuk menghasilkan jumlah DNA kromosom yang cukup banyak dan mendukung segregasi untuk menghasilkan dua sel anakan yang identik secara genetik. Proses ini berlangsung terus-menerus dan berulang (siklik)

Pertumbuhan dan perkembangan sel tidak lepas dari siklus kehidupan yang dialami sel untuk tetap bertahan hidup. Siklus ini mengatur pertumbuhan sel dengan meregulasi waktu pembelahan dan mengatur perkembangan sel dengan mengatur jumlah ekspresi atau translasi gen pada masing-masing sel yang menentukan diferensiasinya.

===== Fase pada siklus sel =====

  • Fasa S (sintesis): Tahap terjadinya replikasi DNA
  • Fasa M ([[mitosis]]): Tahap terjadinya pembelahan sel (baik pembelahan biner atau pembentukan tunas)
  • Fasa G (gap): Tahap pertumbuhan bagi sel. 
  • Fasa G<sub>0</sub>, sel yang baru saja mengalami pembelahan berada dalam keadaan diam atau sel tidak melakukan pertumbuhan maupun perkembangan. Kondisi ini sangat bergantung pada sinyal atau rangsangan baik dari luar atau dalam sel. Umum terjadi dan beberapa tidak melanjutkan pertumbuhan (dorman) dan mati.
  • Fasa G<sub>1</sub>, sel eukariot mendapatkan sinyal untuk tumbuh, antara sitokinesis dan sintesis.
  • Fasa G<sub>2</sub>, pertumbuhan sel eukariot antara sintesis dan mitosis.

:Fasa tersebut berlangsung dengan urutan S > G<sub>2</sub> > M > G<sub>0</sub> > G<sub>1</sub> > kembali ke S. Dalam konteks Mitosis, fase G dan S disebut sebagai Interfase.

=== Diferensiasi sel ===
[[Regenerasi sel]] adalah proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang bertujuan untuk mengisi ruang tertentu pada jaringan atau memperbaiki bagian yang rusak.

[[Diferensiasi sel]] adalah proses pematangan suatu sel menjadi sel yang spesifik dan fungsional, terletak pada posisi tertentu di dalam jaringan, dan mendukung fisiologis hewan. Misalnya, sebuah ''stem cell'' mampu berdiferensiasi menjadi sel kulit.

Saat sebuah sel tunggal, yaitu sel yang telah dibuahi, mengalami pembelahan berulang kali dan menghasilkan pola akhir dengan keakuratan dan kompleksitas yang spektakuler, sel itu telah mengalami regenerasi dan diferensiasi.

[[Regenerasi]] dan diferensiasi sel hewan ditentukan oleh genom. Genom yang identik terdapat pada setiap sel, namun mengekspresikan set gen yang berbeda, bergantung pada jumlah gen yang diekspresikan. Misalnya, pada sel retina mata, tentu gen penyandi karakteristik penangkap cahaya terdapat dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada ekspresi gen indera lainnya.

=== Morfogenesis ===

Pengekspresian gen itu sendiri mempengaruhi jumlah sel, jenis sel, interaksi sel, bahkan lokasi sel. Oleh karena itu, sel hewan memiliki 4 proses esensial pengkonstruksian embrio yang diatur oleh ekspresi gen, sebagai berikut:
  • Proliferasi sel: menghasilkan banyak sel dari satu sel
  • Spesialisasi sel: menciptakan sel dengan karakteristik berbeda pada posisi yang berbeda
  • Interaksi sel: mengkoordinasi perilaku sebuah sel dengan sel tetangganya
  • Pergerakan sel: menyusun sel untuk membentuk struktur jaringan dan organ

Pada embrio yang berkembang, keempat proses ini berlangsung bersamaan. Tidak ada badan pengatur khusus untuk proses ini. Setiap sel dari jutaan sel embrio harus membuat keputusannya masing-masing, menurut jumlah kopi instruksi genetik dan kondisi khusus masing-masing sel.

Sel tubuh, seperti [[otot]], [[saraf]], dsb. tetap mempertahankan karakteristik karena masih mengingat sinyal yang diberikan oleh nenek moyangnya saat awal perkembangan embrio.

=== Apoptosis ===
Apoptosis merupakan bagian dari perkembangan sel, sel tidak dapat mati begitu saja tanpa suatu mekanisme yang tertanam di dalam sel, yang dapat diaktivasi oleh sinyal internal maupun eksternal.
Minggu, 03 Juni 2012 0 komentar

Pedagogi

Pedagogi ialah kajian mengenai pengajaran, khususnya pengajaran dalam pendidikan formal. Dengan kata lain, ia adalah sains dan seni mengenai cara mengajar di sekolah. Secara umumnya pedagogi merupakan mata pelajaran yang wajib bagi mereka yang ingin menjadi guru di sekolah. Sebagai satu bidang kajian yang luas, pedagogi melibatkkan kajian mengenai proses pengajaran dan pembelajaran, pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah dan juga interaksi guru-pelajar.
Dari segi etimologinya, perkataan Pedagogi datangnya daripada bahasa Yunani paidagogos, hamba yang menghantar dan mengambil budak-budak pergi balik dari sekolah. (lihat Paideia.) Perkataan “paida” merujuk kepada kanak-kanak, yang menjadikan sebab kenapa sebahagian orang cenderung membezakan antara pedagogi (mengajar kanak-kanak) dan andragogi (mengajar orang dewasa). Perkataan Yunani untuk pedagogi, pendidikan, adalah digunakan dengan lebih meluas, dan seringkali kedua-duanya boleh ditukar guna.



 
;